Browse By

Rahasia di Balik Teror Tanpa Jumpscare dalam Film The Bell

JAKARTA, Rims Media – Industri film horor Indonesia kembali berinovasi. Film The Bell: Panggilan untuk Mati resmi tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai hari ini, 7 Mei 2026. Berbeda dengan film horor pada umumnya yang mengandalkan kejutan suara keras, karya terbaru dari sutradara Jay Sukmo ini menawarkan pendekatan horor atmosferik yang lebih elegan dan mencekam.

Berdasarkan berbagai review horor The Bell dari penonton special screening di Jakarta, Bandung, hingga Belitung, film ini dinilai berhasil membangun rasa takut melalui situasi dan alur cerita yang kuat. Sosok Penebok—entitas tanpa kepala dari folklor lokal—hadir sebagai ikon horor baru yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memberikan kesan mistis yang mendalam.

Fokus pada Atmosfer dan Eksperimen Visual

Sutradara Jay Sukmo secara tegas menyatakan bahwa ia ingin menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda. Keunikan utama film ini terletak pada penggunaan tiga aspek rasio gambar yang berbeda untuk menggambarkan periode waktu yang berbeda pula.

“Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain untuk menggambarkan setiap periodenya,” ujar Jay Sukmo.

Aktor senior Mathias Muchus pun memberikan apresiasinya terhadap pendekatan ini. Menurutnya, kekuatan film ini terletak pada pengangkatan mitos lokal yang hidup di masyarakat, sehingga horor yang terbangun terasa memiliki makna dan tidak sekadar menakut-nakuti.

Sinopsis: Konsekuensi Fatal di Era Digital

Cerita berawal dari ambisi sekelompok YouTuber yang nekat mencuri lonceng keramat di Belitung demi mengejar viralitas konten. Tindakan ceroboh tersebut justru membebaskan Penebok, sosok hantu tanpa kepala bergaun merah yang telah terkurung selama ratusan tahun. Kini, setiap denting lonceng menjadi pertanda maut bagi siapa saja yang mendengarnya.

Isu yang diangkat sangat relevan dengan fenomena sosial saat ini, di mana batas antara hiburan dan konsekuensi sering kali menjadi kabur akibat obsesi terhadap popularitas di dunia maya.

Menembus Cannes Film Market 2026

Kualitas produksi Sinemata Buana Kresindo ini tidak hanya diakui di dalam negeri. The Bell: Panggilan untuk Mati dipastikan melenggang ke kancah internasional melalui Cannes Film Market pada 12–20 Mei 2026. Prestasi ini menjadi bukti bahwa film horor Indonesia mampu bersaing dengan standar global melalui penceritaan yang berkualitas.

Dibintangi oleh jajaran pemain berbakat seperti Bhisma Mulia, Ratu Sofya, Shaloom Razade, dan Givina, film ini juga didukung oleh original soundtrack emosional “Penuh Kenangan” dari Egha De Latoya yang memperkuat nuansa mencekam sepanjang film.

Saksikan Terornya Sekarang!

Lupakan horor dengan kejutan suara yang melelahkan. Rasakan horor berkelas, tonton The Bell: Panggilan untuk Mati sekarang juga di bioskop terdekat!

Jangan lewatkan rangkaian roadshow di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang untuk bertemu langsung dengan para pemain. Pantau informasi lengkapnya di akun Instagram resmi @thebell.film.

Drias Production   Mbk Production