Rimbawan Mengajar di SMPN 2 Puncu Kediri: Menanam Benih Konservasi di Ruang Kelas

KEDIRI, Rims Media. – Konservasi alam kini tidak lagi hanya dilakukan di dalam rimbanya hutan, melainkan merambah ke bangku-bangku sekolah. Pada Kamis (9/4/2026), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar program Rimbawan Mengajar di SMP Negeri 2 Puncu, Kediri. Kegiatan ini menjadi jembatan krusial dalam memperkenalkan dunia pelestarian alam kepada generasi Z.
Suasana kelas VIII F dan pengurus OSIS yang mengikuti kegiatan ini berubah menjadi ruang diskusi yang hidup saat para praktisi kehutanan membawa “napas” hutan ke hadapan para siswa.
Mengenal Profesi Penjaga Rimba: Polhut hingga Penyuluh
Edukasi dimulai dengan pengenalan peran strategis BBKSDA Jatim oleh Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 01 Kediri. Para siswa diajak memahami bahwa menjaga hutan adalah tugas multidimensi yang melibatkan berbagai profesi kunci:
- Polisi Kehutanan (Polhut): Garda terdepan dalam pengamanan kawasan.
- Pengendali Ekosistem Hutan (PEH): Ahli yang memastikan keseimbangan flora dan fauna.
- Penyuluh Kehutanan: Jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat.
Materi tidak hanya berkutat pada teori, tetapi meluas ke topik keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga rantai makanan agar ekosistem tetap stabil dan berfungsi bagi kehidupan manusia.
Refleksi Kehidupan Satwa: Antara Kebebasan dan Kurungan
Salah satu momen paling menyentuh dalam kegiatan ini adalah penayangan visual mengenai kehidupan burung di alam liar dibandingkan saat berada dalam sangkar. Kontras tersebut menghadirkan refleksi mendalam bagi para siswa mengenai dampak nyata perburuan dan perdagangan satwa ilegal.
Melalui potret tersebut, siswa diajak membangun empati ekologis. Kesadaran bahwa satwa liar memiliki peran penting di habitat aslinya ditanamkan agar mereka kelak tidak menjadi bagian dari rantai permintaan pasar satwa ilegal.
Belajar Interaktif: Simulasi Banjir dan Rantai Makanan
Untuk memperkuat pemahaman teknis, tim BBKSDA Jatim menggunakan pendekatan metode belajar praktis. Para siswa dilibatkan langsung dalam:
- Simulasi Banjir: Memberikan gambaran nyata bagaimana hutan yang rusak gagal menyerap air.
- Penyusunan Rantai Makanan: Memahami bahwa hilangnya satu spesies dapat mengganggu seluruh tatanan alam.
- Opini Kritis: Siswa didorong menuliskan pandangan mereka terhadap film dokumenter konservasi yang ditayangkan.
“Pendidikan adalah strategi mendasar dalam membangun kesadaran kolektif. Kami berharap kegiatan ini bisa menjangkau lebih banyak siswa di masa depan,” ujar salah satu guru pendamping SMPN 2 Puncu.
Kesimpulan: Menyiapkan Generasi Penjaga Alam
Kegiatan Rimbawan Mengajar menegaskan bahwa konservasi dimulai dari persepsi yang benar. Dengan memberikan apresiasi bagi siswa yang aktif dan menciptakan ruang dialog dua arah, BBKSDA Jatim tengah menyiapkan generasi muda Kediri yang tidak hanya mengenal alam secara visual, tetapi juga bersedia menjadi pelindungnya.
